untuk apa kita kaya?

Posted by B Pratama Saturday, December 10, 2011 0 comments
Teringat suatu kali ketika seorang teman sedang meyakinkan saya untuk ikut dalam sebuah bisnis network marketing, lantas kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, untuk apa menjadi kaya raya kalau dengan kehidupan ekonomi yang normal saja sudah cukup?
bukankah cukup dengan kita bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari?
memiliki rumah sederhana, mobil sederhana, mampu berhaji, dan kebutuhan lain. lantas kenapa harus berlebihan dan kaya raya??


jika pertanyaanya mengapa, kita bisa berkaca dari apa yang dilakukan teman-teman muda dibawah ini..
bahwa kita hidup tidak sendirian, bahwa di sebagian harta kita terdapat hak orang lain, bahwa kita hidup senagai umat, sebagai makluk sosial..
maka dengan menjadi kaya, kita akan mampu berbuat jauh lebih banyak dan jauh lebih berarti, hingga "makna hidup orang-orang muda" dibawah ini akan menjadi lebih powerfull bersama kita semua bersama! :)
Insyaallah

Makna Hidup Orang-orang Muda ...

Gempuran iklan yang sangat persuasif ternyata tidak selalu berhasil
mendorong orang-orang muda untuk hidup konsumtif.

Ada juga orang muda yang punya banyak duit, mandiri, pergaulan luas,
namun lebih memilih untuk mendedikasikan diri ke hal-hal sosial
daripada menghabiskan waktu di dugem (dunia gemerlap) dengan teman-
temannya.

"Bagaimana mau dugem jika waktu untuk kerja saja sering saya pakai
untuk kerja sosial ini. Habis bagaimana lagi, anak-anak itu butuh
hiburan dan biaya," kata Andi Lim (29), seorang desainer interior
yang memiliki perusahaan sendiri. Dia bersama dua temannya yang lain,
Vanesa Wen (30) dan Prasetyo Boogie (30), menjadi sukarelawan yang
menghibur anak-anak penderita kanker di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo (RSCM) dan RS Dharmais. Anak-anak yang mereka hibur itu
adalah anak-anak dari kalangan menengah bawah, dan tidak punya cukup
uang untuk sekadar mengurangi rasa sakit.

Adapun Elizabeth Widjaja (34) mengaku tidak punya waktu sama sekali
karena dirinya sibuk menjadi pengelola sebuah TK bagi anak-anak yang
tidak mampu.

"Banyak orang jalan-jalan liburan pada bulan Juni-Juli, saya justru
tidak bisa. Di kedua bulan itu saya lagi sibuk-sibuknya melakukan
acara pelepasan murid, menyusun kurikulum, dan penerimaan murid baru.
Bagaimana bisa jalan-jalan," kata Eli, panggilan dia sehari-hari.

Eli adalah pemilik sekaligus pengelola Kelompok Bermain dan Taman
Kanak-kanak Pelangi yang terletak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Sekolah ini memakai ruang tamu sebagai kelas bagi 55 murid yang
belajar di sana.

"Saya melihat, ruang tamu saya yang begitu besar ternyata tidak ada
fungsinya. Setiap kali tamu datang, mereka masuk lewat garasi, lalu
duduk di ruang tengah. Akhirnya, daripada tidak terpakai, saya pakai
saja untuk sekolah gratis bagi anak-anak yang tidak mampu," kata Eli.

Eli tersentuh untuk membuat sekolah, karena walaupun dia tinggal di
daerah elite, ternyata banyak keluarga yang kurang mampu tinggal di
sekitar kawasan elite itu. Dia melihat, banyak anak yang mengalami
kesulitan di SD karena mereka tidak melalui TK. "Saat ini tidak ada
TK yang murah. Karena tidak mampu menyekolahkan, orangtua memilih
membiarkan anak-anaknya bermain di luar," cerita Eli yang mulai
menjalankan TK itu sejak tahun 2003.

Ketika Eli memutuskan rumahnya dijadikan sekolah, dia langsung pergi
ke RT, RW, dan Kelurahan untuk minta izin. Dia juga mencari sebuah
yayasan yang bisa memasok guru ke sekolah itu. "Saya tidak mengurus
izin resmi karena saya tidak punya dana untuk itu. Sekolah saya ini
boleh dibilang gratis, dan sponsor utamanya adalah suami saya. Tujuan
saya hanya mengisi anak- anak dengan sesuatu yang positif, sama
sekali tidak mencari keuntungan materi," tegas istri seorang vice
president di sebuah perusahaan modal asing ini.

Eli tidak hanya memberikan bermacam kegiatan untuk melatih motorik
halus anak-anak. Dia juga mengenalkan anak-anak dengan kegiatan luar
ruang. Dia membolehkan anak-anak itu latihan berenang di kolam renang
pribadinya. Selain itu, setiap akhir tahun ajaran, anak kelas C
mengadakan kemping bersama selama tiga hari dua malam di halaman
kosong samping rumah Eli. "Ide awalnya adalah membawa anak-anak jalan-
jalan. Pertama kali kami pergi ke Ragunan, karena biayanya murah.
Setelah itu kami bingung mau ke mana lagi, karena tiket masuk di
tempat lain mahal semua. Akhirnya, saya beli saja dua buah tenda
besar, lalu anak-anak itu saya ajak kemping. Ternyata, walau mereka
sering main di luar, kegiatan kemping sangat mengasyikkan buat
mereka," cerita Eli.

Eli tidak hanya mengisi hal-hal yang positif pada anak- anak saja.
Dia juga tergerak memberdayakan orangtua yang mengantar anak sekolah
dengan membuat berbagai macam benda dari barang bekas. "Ketika
sekolah sudah berlangsung enam bulan, saya lihat banyak ibu-ibu yang
ngerumpi saja ketika menunggu anak. Akhirnya, saya putar otak,
daripada bengong dan ngobrol yang tidak jelas, lebih baik mereka
membuat sesuatu. Bahan baku saya sediakan, mereka hanya tinggal
belajar bagaimana membuatnya. Sekarang, banyak sekali yang telah
dibuat oleh ibu- ibu itu. Celengan, tempat sepatu, pin, gantungan
kunci, hiasan magnet, dan sebagainya. Waktu ada Festival Jalan
Kemang, barang-barang itu banyak yang terjual. Uangnya, ya, buat ibu-
ibu," kata Eli yang memang sejak remaja senang menjadi sukarelawan di
panti-panti asuhan.

Eli sudah menghitung, biaya operasional untuk kegiatannya ini
memerlukan dana sekitar Rp 65 juta setahun. Dana ini sebagian besar
diambil dari gaji suami. Sisanya, beberapa kali Eli mendapat bantuan
dari teman- temannya.

Penderita kanker
----------------

Jika Eli sehari-hari disibukkan mengurus murid dan orangtua murid,
Andi, Boogie, dan Vanesa banyak menghabiskan waktu di RSCM dan RS
Dharmais sejak tahun 2003.

Mereka datang untuk memompa semangat anak- anak yang menderita kanker
dan keluarganya.

"Meskipun hanya kunjungan, tetapi anak-anak dan keluarganya sangat
bahagia. Padahal kami tidak saling kenal. Jika kebetulan kami membawa
artis yang mau ikutan, biasanya keluarga pasien sangat terhibur,"
ujar Boogie yang sehari-hari bekerja sebagai manajemen artis.

Andy mengaku tersentuh melihat penderitaan anak-anak itu karena
mereka hanya mendapatkan fasilitas yang minimal. "Mereka menjalani
kemoterapi dengan fasilitas seadanya. Setelah kemo, mereka tidak
diberi obat pengurang rasa sakit karena obat itu sangat mahal.
Bayangkan, orang dewasa saja kesakitan, apalagi anak-anak kecil itu,"
kata Andi yang bersyukur karena sembuh dari sebuah penyakit gara-
gara malpraktik.

Vanesa mengatakan, bantuan yang mereka berikan dibagi dalam dua
bentuk. Jika penderita tidak memiliki angka harapan hidup yang
tinggi, mereka membantu dalam bentuk hiburan atau perbaikan nutrisi.
Sementara untuk penderita yang masih memiliki angka harapan hidup
cukup tinggi, bantuan lebih diarahkan untuk pembelian obat-obatan,
termasuk obat pembunuh rasa sakit.

"Ada empat anak yang telah kami tolong. Tetapi tiga di antaranya
sudah dipanggil Yang Kuasa. Untungnya, sebelum meninggal, mereka
masih bisa bermain dengan boneka yang kami berikan. Tidak ada
peristiwa yang lebih indah selain melihat mereka tersenyum saat main
boneka itu," kata Vanesa yang berprinsip hidup harus mempunyai makna
bagi orang lain.

Mereka bertiga mengakui, dana untuk melakukan kegiatan itu cukup
besar. Selama ini dana itu berasal dari kantong pribadi mereka.
Namun, mereka melihat kebutuhan untuk membeli obat- obatan semakin
tinggi. Apalagi anak yang minta bantuan juga semakin banyak.
Akhirnya, minggu lalu, mereka melakukan konser musik untuk
mengumpulkan dana. Untuk itu, akhirnya mereka membentuk Yayasan Untuk
Cinta, agar lebih mudah jika melakukan kegiatan pengumpulan dana.

"Dana yang terkumpul mencapai Rp 140 juta kotor, yang terkumpul dari
donasi dan penjualan tiket. Banyak artis yang mendukung, dan mereka
tidak minta bayaran. Kami melihat, sebenarnya banyak sekali orang
yang mau membantu kerja amal, tetapi mereka tidak tahu caranya," kata
Boogie, anak seorang dokter bedah plastik yang sejak kecil terbiasa
melihat ayahnya membebaskan biaya pengobatan bagi pasien tidak mampu.


Sulitnya Melakukan Pekerjaan Amal
---------------------------------

Niat positif untuk melakukan pekerjaan amal, ternyata belum cukup.
Walaupun semua orang tahu, beramal adalah sesuatu yang baik, tidak
semua mudah percaya.

Makanya, masih diperlukan kerja keras dan keteguhan hati dari para
pelaku agar niat itu terwujud.

Ketika Elizabeth Widjaja (34) berniat membuka sekolah gratis, dia
harus mengetuk setiap rumah agar mau menyekolahkan anaknya di
sana. "Mereka tidak ada yang percaya bahwa saya menyelenggarakan
sekolah gratis. Katanya, di dunia ini tidak ada yang gratis," kata
Eli menirukan ucapan seorang tukang bakso yang tidak percaya pada
bantuannya.

Tetapi Eli tidak putus asa. Setiap hari dia datang ke rumah-rumah
untuk mengundang anak-anak sekolah. Eli mendapatkan 27 murid. Namun
setelah kegiatan sekolah berjalan, Eli melihat, banyak orangtua yang
kurang menghargai sekolah gratis yang dia berikan. "Mereka tidak
mempunyai komitmen untuk terus menyekolahkan anaknya karena merasa
tidak mengeluarkan uang. Akhirnya saya tetapkan setiap murid harus
membayar uang sekolah Rp 5.000 tiap bulan. Hanya anak yang benar-
benar tidak mampu yang dibebaskan uang sekolah. Setelah diminta
bayar, barulah mereka memiliki komitmen," cerita Eli.

Vanesa Wen, salah seorang penggagas Yayasan Untuk Cinta, yayasan yang
membantu anak-anak penderita kanker, mengatakan, niat baik mereka
untuk menolong penderita tidak selalu mendapat sambutan hangat.

"Pernah kami ditolak oleh seorang ibu karena ingin membawa anaknya
yang menderita bibir sumbing dioperasi ke Jakarta. Ibu itu khawatir
anaknya akan diapa-apakan. Akhirnya kami bawa saja seluruh
keluarganya ke Jakarta, termasuk sang ibu, untuk mengurangi rasa
khawatir itu," tutur Vanesa. Setelah selesai operasi, ibu itu lalu
mengucapkan terima kasih dan mengagumi anaknya sudah tidak sumbing
lagi.

Selain itu, Vanesa mengaku dirinya tidak boleh hanya menunggu bola
saja, melainkan harus datang langsung ke rumah sakit. "Kalau hanya
menunggu bola, kita justru akan kewalahan karena begitu banyak orang
yang datang minta pertolongan. Kami lebih memilih datang ke rumah
sakit, dan fokus pada anak-anak yang menderita kanker," ujar Vanesa.

Jika dilihat dari segi jumlah, mungkin apa yang dilakukan mereka
belum ada apa-apanya. Namun sekecil apa pun itu, bantuan mereka
sangat berarti buat mereka yang membutuhkan, dan juga buat negara
yang agaknya masih belum mampu menyejahterakan rakyatnya ini.

(Jakarta, Kompas)
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: untuk apa kita kaya?
Ditulis oleh B Pratama
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://unnamedwarrior.blogspot.com/2011/12/untuk-apa-kita-kaya.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 comments:

Post a Comment

mari sharing pemikiran :) ,

Template by Cara Membuat Email | Copyright of Original one.