Demi Allah, kita akan berkecukupan! Atau kaya!

Posted by B Pratama Monday, December 5, 2011 0 comments
Demi Allah, kita akan berkecukupan! Atau kaya!



Lho, kalau memang semua orang dijamin dengan kekayaan atau kecukupan (yang artinya tidak miskin) lalu bagaimana dengan kenyataan yang ada?? Bukankah bahkan sejak jaman Nabi-nabi terdahulu selalu ada golongan yang miskin?
Orang-orang yang skeptic mungkin akan mencoba menyanggah dengan memaparkan bahwa kenyataanya masih banyak tetangganya yang masih tidak mampu menyekolahkan anaknya, bahwa masih banyak di perempatan orang-orang yang meminta-minta, bahwa statistic BPS pun masih akan menyebutkan dengan tegas sekian persen penduduk Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan!
Apakah yang dipaparkan ini salah? Ataukah kebohongan? Saya pikir semua orang sepakat mengatakan bahwa pemaparan tersebut 100% benar dan tanpa rekayasa! Hehe..
Lantas bagaimana dengan pernyataan saya sebelumnya bahwa semua orang dijamin diberikan kaya atau cukup?
Apakah pernyataan saya yang kemudian salah?? Atau mengada-ada??
Saya mungkin salah dalam menyampaikan, tetapi apa iya ayat dalam al-qur’an itu salah?? Apa iya Allah SWT akan berbohong?? Apa iya kita akan bersikap skeptic terhadap kitab suci kita?? Wah jangan sampai..jangan-jangan..??
SssSSsstttttttt..mending sekarang kita sepakat bahwa tidak ada keraguan akan Firman Allah SWT, hanya kita yang belum sepenuhnya mengerti ilmunya.. Deal?
Coba yuk kita cari tahu..
Kemiskinan memang telah ada sejak dahulu, bahkan dijaman Rasulullah dan para sahabatpun kemiskinan tetap ada.
Tetapi mari kita perhatikan dalam surat An-Nisa ayat 79 :
apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.”
Jadi jelas bukan mengapa masih ada golongan yang miskin?? Iya, itu karena kesalahan kita sendiri.
Tetapi apa salah orang hingga membuat dia miskin??
Untuk hal ini, saya pribadi mengalami pahitnya “kesalahan” tersebut..
Dan setelah lama berpikir tentang kesalahan tersebut maka dapat saya simpulkan kesalahan saya -dan mungkin kita semua- hanya satu, kita tidak teguh memegang tuntunan Islam. Hanya itu? Iya hanya itu, dan sesimple itu.
Jangan salah lho, agama kita bukan hanya tuntunan tentang ibadah, tetapi juga tuntunan menjadi kaya yang berkah
Kesalahan ini semoga menjadi pelajaran yang tidak akan terulang oleh saya maupun sahabat semua.
Ayah saya (alm) dulu adalah seorang pedagang yang bisa dibilang sukses, kami memiliki beberapa rumah, sawah, kebun, juga asset-aset lainya. Sementara saya bersama ibu dan saudara-saudara saya tinggal dirumah, ayah saya melakukan perjalanan dagangnya ke luar pulau. Yang mana dari catatan harian beliau nampak semua pulau besar telah beliau jelajahi.
Kami sekeluarga hidup nyaman dan berkecukupan hingga hari-hari ayah saya mulai sakit dan tidak dapat lagi berdagang, dan kemudian beberapa lama kemudian beliau meninggal dunia di saat saya dan kakak saya masih sekolah, saya masih SMP ketika itu , maka dimulailah masa-masa dimana ibu –ibu saya seorang ibu rumah tangga, yg luar biasa - menjual satu demi satu asset yang kami punya untuk bertahan hidup dan biaya pendidikan anak-anaknya. Mulai dari rumah di Surabaya, rumah di Tulungagung, Rumah di Kediri, sawah, kebun, kendaraan, bahkan hingga pohon-pohon kelapa (laku juga lho ), tapi sungguh bersyukur kini saya kakak saya telah “mentas” dan kini berusaha mengembalikan apa-apa kekayaan keluarga kami-dan semoga kekayaan umat ini, kita semua! Aamiin..
Saya baru menyadari baru-baru ini bahwa “kejatuhan” kami dalam masa-masa sulit adalah karena kami sekeluarga tidak menerapkan system ekonomi islam dalam keluarga kami , dan yang kedua adalah karena kami terjebak dalam system ekonomi modern capital.
System ekonomi islam dan jebakan capital yang saya maksud disini adalah, UANG.
Ini tentang mata uang Kapital vs mata uang Islam.
Rupiah vs Dinar emas.
Saya membayangkan andai dulu dari penjualan satu rumah kemudian kami mengikuti ajaran system perekomian islam menggunakan dinar, maka InsyaAllah kami tidak perlu menjual rumah-rumah dan asset-asset yang lain. (Rahasia tentang dinar emas yuk kita pelajari bareng-bareng dalam tulisan berikutnya)

Maka apakah cukup dengan mengandalkan dinar saja?? Tentu tidak, ekonomi manapun tidak sesimple itu bukan untuk mencapai cukup dan kaya? Sebanyak apa uang rupiah yang kita miliki akan menentukan seberapa banyak dinar yang mampu kita miliki. Bedanya, nanti jika ekonomi capital makin miskin maka ekonomi islam akan makin kaya! Itu pasti. (jangan lupa nanti kita belajar bareng lagi ya tentang kepastian bahwa ekonomi capital modern akan semakin miskin! Itu –lagi lagi pasti- , kalau mereka makin miskin maka kita umat islam?? Hehe Aamiin Ya Rabb)
Lalu kalau tidak cukup dengan hanya menukarkan rupiah kita dengan dinar, bagaimana lagi selanjutnya??
Singkat saja dulu ya, dikatakan bahwa 9 dari 10 pintu rejeki ada dalam perdagangan atau bisnis!
Mudahnya begini, kita skalakan penduduk bumi menjadi 6 juta jiwa maka dan yang “berprofesi” sebagai pengusaha atau pedagang hanya 30 orang. Maka apabila Allah menurunkan rejeki 1 Trullyun 30 orang yang pengusaha tersebut mendapat bagian 900 Millyar atau 30 Millyar per orang, sedangkan 1 pintu rejeki lain yang “digeluti” oleh 5.999.970 orang mendapat “jatah” 100 Millyar atau sekitar 16.000 Rupiah per orang.
Cukup jelas bukan kawan?
Jika kurang, kita belajar bareng lagi ya next time..
Yang paling penting, keep spirit dan mari mulai memantapkan hati bahwa Islam dengan segala systemnya adalah yang terbaik!




TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Demi Allah, kita akan berkecukupan! Atau kaya!
Ditulis oleh B Pratama
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://unnamedwarrior.blogspot.com/2011/12/demi-allah-kita-akan-berkecukupan-atau.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 comments:

Post a Comment

mari sharing pemikiran :) ,

Template by Cara Membuat Email | Copyright of Original one.